Menyoal Kesenjangan Digital

“Saat ini broadband kecepatan tinggi bukanlah barang mewah, tapi kebutuhan”. Itulah pernyataan Presiden Obama pada tanggal 14 Januari 2015 yang dikutip dari dokumen Council of Economic Adviser Issue Brief Edisi Juli 2015 yang dirilis oleh Gedung Putih.

Setujukah Anda dengan pernyataan presidennya Paman Sam? Mungkin bisa benar dalam konteks masyarakat di negara maju, khususnya Amerika Serikat. Lebih tepatnya lagi, kebutuhan bagi orang yang secara finansial mempunyai kemampuan untuk memiliki peralatan digital yang terkoneksi ke dunia maya yang tidak mengenal batas. Namun di wilayah lain, justru ada sebagian kelompok masyarakat yang serba terbatas, termasuk keterbatasannya dalam mengakses dunia digital yang mungkin masih dianggap barang mewah.

Ituĺah fenomena kesenjangan digital atau digital divide. Menurut OECD (2001), kesenjangan digital merupakan kesenjangan antara orang, keluarga, perusahaan, atau wilayah geografis dalam mengakses dan memanfaatkan internet untuk kegiatannya masing-masing.

Laporan PBB yang dirilis 21 September 2015 menyebutkan bahwa internet gagal menjamah milyaran penduduk dunia, 90 persen diantaranya tinggal di negara-negara miskin. Sekitar 57 persen penduduk dunia masih offline dan tidak mampu memperoleh manfaat sosial dan ekonomi yang dapat ditawarkan oleh internet.

Akses internet yang paling rendah sebagian besar berada di wilayah Afrika subsahara dengan ketersediaan internet kurang dari 2 persen penduduk di Guinea, Somalia, Burundi, dan Eritrea. Bak bumi dan langit, kondisi tersebut berbeda jauh dengan negara di wilayah lain yang sudah menganggap internet layaknya kebutuhan pokok. Korea Selatan tercatat sebagai negara terdepan dalam penetrasi broadband oleh penduduknya yaitu sebanyak 98.5 persen keluarga sudah terkoneksi, disusul Qatar dengan 98 persen, dan Saudi Arabia dengan 94 persen.

Jadi, masihkah Anda sepakat bahwa internet sudah menjadi kebutuhan bagi semua orang?

Post Your Thoughts